Chat with us, powered by LiveChat

Jumat, 05 Mei 2023

Tentang Nasi koyor Semarang by qiuslot88

Kota Semarang kaya akan kuliner yang enak-enak.

Selain itu, makanan khas Semarang ini juga memiliki cita rasa tersendiri yang berbeda dengan masakan-masakan khas Yogyakarta dan Surakarta yang cenderung manis.

Meskipun cita rasa manis ini ibaratnya masih menjadi ‘dasar’ untuk masakan-masakan khas Semarang, namun manis yang dimiliki berbeda.



Yang mana, rasanya cenderung tidak terlalu dominan dan balance dengan rasa asin-gurih.

Rempah-rempah yang digunakan juga punya takaran dan bahan yang sedikit berbeda.

Bicara soal makanan di kota ini, sebenarnya tidak hanya lumpia saja yang wajib dicoba.

Satu kuliner yang juga tak bisa dilewatkan adalah Sego Koyor atau Nasi Koyor.

Dari melihat tampilannya pada gambar di atas saja sudah menggoda kan?

Supaya tidak makin penasarran, yuk berkenalan lebih jauh dengan santapan lezat ini.

Oleh kalangan orang-orang yang sudah lama tinggal di Kota Semarang, makanan ini mungkin sudah bukan hal yang asing lagi bagi mereka.

Namun bagi para perantau atau wisatawan, mungkin nama nasi koyor masih belum terlalu familiar. Pamornya masih kalah dengan lumpia maupun tahu gimbal.

Namun, belakangan kuliner ini mulai naik daun kembali dengan banyaknya para food vlogger yang membuat konten terkait makanan ini.



Bagi yang belum tahu, koyor sendiri merupakan otot atau urat sapi yang menempel pada tulang.

Di Jawa Tengah, khususnya daerah Semarang, bagian ini kerap diolah menjadi berbagai kuliner lezat, termasuk untuk nasi koyor.

Ada beberapa tempat yang bisa dijadikan pilihan bila ingin menyantap makanan ini.

Namun, satu rekomendasi tempat yang legendaris adalah warung Nasi Koyor Kota Lama.

Tempat ini sudah berdiri sejak tahun 1955 dan sudah dikenal oleh berbagai kalangan masyarakat dan pecinta kuliner.

Lebih spesifiknya, lokasi warung nasi ini berada di sebelah gedung Marba, Kota Lama Semarang.

Isian dari nasi koyor ini pada umumnya terdiri atas nasi, koyor, sayur-sayuran (biasanya nangka muda, buncis, kacang panjang, atau labu siam), kering tempe, tahu, sambal, serta telur bila menginginkan lauk tambahan, tergantung dari tempat makannya.

Tak lupa, disiram dengan kuah rempah yang lezat dan menjadi sebuah pelengkap utama dalam kelezatannya.

Saat hendak menyantapnya, aroma harum yang menggugah selera langsung tercium seketika.

Bagi yang belum pernah menyantap koyor, ketika melihat dan memotongnya mungkin akan langsung teringat dengan kikil.

Hanya saja, koyor ini memiliki ukuran yang lebih besar.

Mulai suapan pertama, tekstur kenyal nan lezat dari koyor dengan rasa gurih yang pas dari kuahnya akan terasa di lidah.

Bumbunya terasa kuat, mulai dari segi rasa koyor, kuah, maupun lauk pelengkap lainnya.

Kenikmatan ini juga semakin terasa ketika nasinya sudah tercampur dengan sambal.

Secara keseluruhan, rasa manis, asin, dan gurih menyatu dengan sempurna dari makanan ini.

Apalagi dengan porsinya yang pas, koyor yang besar, serta lauk isian yang tidak pelit.

Yulianti selaku pengelola generasi kedua dari Nasi Koyor Kota Lama menyebutkan bila kunci kenikmatan dari makanan ini adalah resep turunan khas keluarga.

Selain itu, pembuatannya juga masih menggunakan cara tradisional dengan arang.

Bila pengolahannya baik, maka koyor ini akan terasa kenyal dan empuk dengan bumbu yang terasa meresap.

Meskipun tempatnya sederhana, banyak orang-orang dari luar kota yang tertarik untuk mencoba nasi koyor di sini.

Tak jarang, ada pula kalangan pejabat yang mampir makan siang.

Selain di Nasi Koyor Kota Lama, ada pula tempat rekomendasi lain yang bisa jadi alternatif yang tak kalah enak, misalnya Nasi Koyor Mak Mi yang ada di daerah Bulustalan. 

Kamis, 04 Mei 2023

Tentang Nasi Megono by qiuslot88

Nilai sejarah dan budaya mengawali terciptanya Megono sebagai hidangan para pejuang. Megono berasal dari kata bahasa Jawa merga (karena) dan ana (ada).



Makanan ini berawal dari sajian yang diberikan untuk para pasukan Kesultanan Mataram di bawah pimpinan Bahureksa yang hendak berperang melawan VOC di Batavia pada tahun 1628.

Kondisi perang yang menyebabkan sulitnya perekonomian rakyat pada kala itu berdampak pada minimnya kebutuhan sandang dan pangan.

Suatu ketika, rombongan pasukan Mataram memasuki wilayah Kabupaten Pekalongan untuk beristirahat di perkampungan penduduk dalam kondisi kelelahan dan lapar.

Penduduk setempat bersimpatik dan tak tinggal diam melihat kondisi pasukan Mataram tersebut.

Mereka saling bahu membahu dan membantu mengumpulkan makanan dari rumah setiap penduduk untuk diberikan secara sukarela.



Namun, dengan kondisi yang serba terbatas para penduduk hanya mendapatkan kerak nasi tanpa adanya sayur.

Inisiatif untuk mencari sayur pun muncul.

Hingga diperoleh nangka muda yang banyak ditanam oleh penduduk di Pekalongan.

Nangka muda itu pun kemudian diolah dengan singkat hingga menjadi cacahan nangka muda yang terpotong kecil-kecil dan dibumbui kelapa parut.

Semenjak itu makanan ini disebut dengan Megono yang merupakan akronim merga ana, dalam bahasa Jawa berarti karena ada.

Karena hanya ada nangka muda tersebut yang dapat dijadikan sayur sebagai hidangan untuk pasukan Mataram.

Meskipun makanan sederhana berbahan dasar nangka muda, mengonsumsi nangka muda dapat memperkuat imunitas tubuh dan sumber antioksidan yang baik guna memperkuat ketahanan fisik.

Oleh sebab itu, pasukan Mataram disajikan nangka muda tersebut.

Pembuatannya Yaitu :

Megono terbuat dari nangka muda yang masih mentah dan kulitnya telah dikelupas, nangka muda itu kemudian dicincang atau diiris halus terlebih dahulu menjadi potongan kecil-kecil.

Kemudian potongan tersebut di masukkan ke dalam wadah yang tahan panas.

Selanjutnya tambahkan irisan halus bunga kecombrang, kelapa parut, bawang merah, bawang putih, ketumbar, kemiri, terasi, kencur, cabai merah, serai, daun melinjo, daun salam, daun jeruk dan bumbu rempah ke dalam wadah nangka muda dan diaduk hingga tercampur merata.

Setelah itu, kukus nangka muda yang telah tercampur dengan bumbu sekitar 45 menit-1 jam hingga nangka menjadi lunak dan bumbunya telah meresap.

Warna megono yang dihasilkan biasanya berwarna kuning kecoklatan. Warna kematangan megono dipengaruhi oleh bumbu rempah yang digunakan.

Bumbu rempah ini yang memberikan cita rasa utama pada megono.

Sedangkan rasa gurih yang dihasilkan dipengaruhi dari kelapa parut yang diberikan.

Megono hadir dalam berbagai warna dan variasi.

Variasi hidangan megono menjadi jenis tersendiri bagi megono tersebut.

Selain di Pekalongan megono memiliki variasi lain di Wonosobo.

Ciri khas megono Wonosobo adalah adanya tambahan irisan kubis hijau, parutan kelapa, dan ebi. Bumbu megono Wonosobo sendiri terdiri dari bawang merah, bawang putih, garam dan cabai.

Parutan kelapa dan ebi tersebut yang memberikan rasa gurih.

Penyajian :

Megono merupakan jenis hidangan vegetarian atau sayuran, karena hanya terdiri dari nangka muda, parutan kelapa dengan paduan bumbu rempah lainnya.

Namun, megono biasanya disajikan dengan tambahan lauk seperti cumi, daging ayam atau ikan.

Megono umumnya disajikan dengan nasi putih dan cumi yang dimasak hitam, telur rebus balado, mendoan, tempe orek, mentimun dan sambal.

Megono biasanya dikemas dengan daun pisang untuk menguatkan aromanya menjadi wangi dan lebih enak.

Rabu, 03 Mei 2023

Tentang Nasi Jamblang Cirebon by qiuslot88

Nasi jamblang merupakan kuliner khas dari Cirebon, Jawa Barat.

Jamblang merupakan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Cirebon.

Dikutip dari laman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dijelaskan jika nasi jamblang sejatinya tak jauh berbeda dengan nasi pada umumnya..



Perbedaan yang mencolok adalah nasi khas Cirebon ini dibungkus dengan daun jati.

Penyajian nasi jamblang ini menggunakan prasmanan.

Pengunjung bisa memilih langsung lauknya.

Semua warung makan nasi jamblang begitu.

Menu yang tersedia, antara lain sambal goreng, tahu sayur, paru-paru, semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar, telur goreng, telur masak sambal goreng, semur ikan, ikan asin, tahu, dan tempe.

Nasi jamblang sudah ada sejak era kolonial Belanda. Awal mula sejarahnya, Belanda membangun tiga pabrik di kawasan Cirebon.



Pabrik gula di wilayah Gempol Palimanan dan Plumbon, serta Pabrik Spirtus di Palimanan.

Berdirinya pabrik-pabrik tersebut banyak menyerap tenaga kerja dari wilayah sekitar dan wilayah lainnya.

Para buruh yang rumahnya jauh seperti dari Sindangjaya, Cisaat, Cimara, Cidahu, Cinaru, Bobos, dan Lokong harus berangkat di pagi buta dengan berjalan kaki.

Para buruh tersebut kesulitan mencari makan untuk sarapan karena pada saat itu belum berdiri warung-warung nasi.

Masyarakat zaman dulu menganggap menjual nasi merupakan suatu hal yang dilarang atau pamali.

Ini dapat dimaklumi karena peredaran uang kala itu masih sedikit.

Karena iba, seorang pengusaha pribumi asal Jamblang, H. Abdul Latief meminta istrinya Tan Piauw Lun atau akrab disapa Nyonya Pulung untuk menyediakan sedekah makanan berupa nasi dan lauk pauk secukupnya.

Nasi itu dibungkus daun jati dan diberikan kepada buruh pabrik.

Berita pemberian sedekah dari Nyonya Pulung rupanya menyebar dengan cepat.

Permintaan sarapan bagi buruh pun semakin bertambah banyak.

Para buruh menyadari apa yang mereka makan merupakan sesuatu yang harus dibeli.

Untuk mengganti apa yang dimakan, para buruh bersepakat memberikan uang alakadarnya kepada Nyonya Pulung.

Kegiatan itu menjadi cikal bakal usaha warung nasi jamblang Nyonya Pulung.

Pada saat itu, lauk pauk nasi jamblang yang diperuntukkan bagi para buruh hanya ada tujuh macam, yakni dendeng laos, kebuk goreng (paru), sambel goreng, tempe goreng, tahu goreng, sayur tahu, dan ikan asin panjelan (cucut).

Saat ini warung Jamblang nyonya Pulung berganti nama menjadi Nasi Jamblang Tulen.

Kini bisnis turun temurun ini tetap dikelola dan berdiri dengan kesederhanaan dari generasi ke generasi dan menyebar ke seluruh Kota Kabupaten Cirebon.

Manfaat Daun Jati

Daun jati dipilih oleh Nyonya Pulung sebagai pembungkus nasi jamblang karena daun jati bertekstur kasar dan tidak mudah sobek.

Tekstur itu membuat nasi yang sudah dibungkus tidak akan cepat basi walaupun terbungkus dalam waktu yang cukup lama.

Selain itu, para pekerja yang berasal dari wilayah Selatan Cirebon seperti Sindangjaya dan Cisaat menjadikan daun jati ini sebagai pelindung kepala di saat panas terik.

Daun jati juga digunakan sebagai pembungkus tempe di beberapa daerah.

Daun jati yang digunakan sebagai pembungkus nasi jamblang atau tempe itu miliki banyak manfaat untuk kesehatan kita.

Di dalamnya mengandung senyawa kimia, seperti quercetin, saponin, dan tanin yang mampu menurunkan kolesterol dalam tubuh.

Selain itu, saponin sangat baik untuk menjaga tekanan darah agar tidak tinggi atau hipertensi.

Berbagai jenis serangga hama jati juga sering dimanfaatkan sebagai bahan makanan orang desa.

Dua jenis serangga di antaranya adalah belalang jati yang besar berwarna kecoklatan dan ulat jati.

Ulat jati bahkan kerap dianggap makanan istimewa karena lezatnya.

Ulat ini dikumpulkan menjelang musim hujan.

Biasanya warga mengumpulkannya di pagi hari, ketika ulat-ulat itu bergelantungan turun dari pohon saat mencari tempat untuk membentuk kepompong.

Kepompong ulat jati pun turut dikumpulkan dan dimakan.

Selasa, 02 Mei 2023

Tentang Nasi Lengko by qiuslot88

Umumnya masyarakat Indonesia mengenal nasi sebagai makanan pokok.

Tidak mengherankan jika berbagai daerah di Indonesia memiliki beraneka macam olahan nasi dengan ciri khas dan kenikmatan yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya.

Salah satu nasi yang terkenal memiliki cita rasa yang nikmat adalah Nasi Lengko.

Selain lezat, kuliner khas tanah para wali, Cirebon, Jawa Barat, ini diyakini mengandung nilai gizi yang sangat tinggi.  Yang paling terkenal adalah milik H. Barno di Jalan Pagongan, Cirebon sejak tahun 1968.



Meski hanya warung, daya tampungnya mencapai 100 pengunjung.

Nasi Lengko atau biasa yang disebut masyarakat Cirebon dengan sebutan sega lengko merupakan perpaduan bahan utama nasi dengan berbagai sayuran dan lauk-pauk yang menyehatkan.

Nasi Lengko sebenarnya mirip dengan nasi pecel.

Isinya berupa nasi yang di atasnya diberi irisan kecil timun, taoge, daun bawang, irisan tempe, dan tahu. Kemudian disiram dengan bumbu kacang yang lumayan pedas beserta taburan bawang goreng dan irisan daun kucai.



Nasi Lengko secara umum memiliki cita rasa yang gurih dan manis.

Meski demikian, bagi penikmat pedas, Nasi Lengko dapat ditambahkan dengan cabai agar menghasilkan rasa pedas sesuai dengan selera Anda.

Belum lagi tambahan taburan bawang goreng yang menghasilkan nuansa rasa Nasi Lengko menjadi begitu lengkap.

Nasi Lengko adalah kuliner khas Cirebon yang bisa dikatakan paling sehat karena berisi bahan-bahan nabati, tidak ada protein hewani, kecuali bagi yang ingin menikmati Nasi Lengko bersama sate kambing.

Rasanya kurang lengkap bila menikmati Nasi Lengko ini tanpa sate kambing.

Untuk itulah di warung ini pun menyediakan sate kambing yang begitu empuk dan tanpa bau prengus kambing.

Rahasia daging yang begitu empuk tersebut adalah karena yang dipilih adalah kambing muda berusia satu tahun. Dalam sehari warung ini membutuhkan sekitar 30-40 kg daging kambing.

Kelezatan Nasi Lengko sebenarnya ditentukan oleh rasa pedas sambalnya. Namun bagi yang tidak suka pedas, jangan khawatir. Tuang kecap di atas sambal sesuai selera.

Rasa kecap manis bercampur sambal dijamin lezat di lidah.

Lebih afdol lagi bila disantap bersama kerupuk.

Satu porsi Nasi Lengko harganya Rp 7.000, sedangkan sate kambing muda Rp 20.000 per sepuluh tusuk.

Uniknya lagi, warug nasi ini juga menyediakan es duren, mirip dengan es puter, rasanya lembut ditambah lagi dengan buah durennya yang masih utuh.

Warung Nasi Lengko H. Barno buka sejak pukul 06.00 hingga pukul 20.00.

Semua makanan disini masih dimasak menggunakan kayu bakar dan arang, sehingga kualitas rasanya selalu terjaga.

Tak ada salahnya jika Anda mencoba mampir makan siang di Nasi Lengko H. Barno saat mengunjungi kota Cirebon.

apabila tidak ingin mengalami antrian yang cukup panjang, bisa coba datangi cabangnya yang berada di Jalan Bahagia, tidak jauh pusatnya di Jalan Pagongan.

Minggu, 30 April 2023

Tentang Tahu Telor Blora by qiuslot88

Anda berkunjung ke Blora? Tentu hal yang wajib untuk mencoba makanan ini. Salah satu makanan khas dari Blora.
Bagi orang Blora tentu juga sudah tidak asing dengan makanan yang satu ini karena warungnya dapat dijumpai di berbagai sudut kabupaten Blora dari ujung ke ujung, baik dari ujung timur hingga ke barat apalagi kawasan Blora kota.


Kelezatannya dijamin akan membuat anda ingin mencoba lagi.
Lontong sendiri adalah makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun pisang kemudian dikukus di atas air mendidih selama beberapa jam dan jika air hampir habis dituangkan air lagi, demikian berulang sampai beberapa kali(hingga matang).
Dalam sajiannya lontong tahu Blora pada dasarnya terdiri atas lontong dan tahu goreng dengan bumbu kacang khas Blora di atasnya.


Bisa ditambahkan dengan sauran, walaupun biasanya tidak karena inilah yang membedakannya dengan pecel Blora.
Lontong yang alami adalah lontong yang menggunakan daun pisang sebagai wadahnya.
Tidak seperti perkembangan sekarang ada yang menggunakan plastic. Ini akan berbeda pada kualitas ke ramah lingkungannya dan mungkin juga berpengaruh bagi kesehatan.
Lontong tahu Blora berbeda dengan makanan lontong daerah lain. Jika anda melihat penyajiannya nanti, pesanan dapat disesuaikan dengan selera anda yakni tingkat kepedasan dan lainnya.
Barulah disana akan mulai penyajian yakni dengan pemotongan lontong dan tahu goreng, jika anda beruntung tentu tahu goreng yang masih hangat.
Lalu penyiapan bumbu kacang yang ditambahkan kecap dilakukan di depan pemesan. Selain tahu goreng juga bisa ditambahkan lauk-lauk yang lain berbagai gorengan seperti tempe goreng ataupun telur dadar dan lainnya.
Dalam pembuatannya ini disesuaikan dengan porsi jumlah pemesan dan tingkat kepedasan yang diinginkan.
Bisa jadi bahwa dalam penyiapan bumbunya hanya untuk satu pesanan.
Inilah kenapa dapat  dikatakan bahwa lontong tahu Blora adalah makanan cepat saji khas Blora.
Karena penyiapan yang cepat dan dilakukan di depan pemesan.
Makanan fresh. Salah satu factor penting dalam penyajian lontong tahu Blora adalah kecap yang digunakan.
Kecap yang digunakan oleh penjual yang paling khas adalah kecap hasil home industri.
Sebagai makanan dari Blora, kekhasan yang selalu melekat adalah penggunaan daun Jati. Mungkin latar belakangnya adalah karena di Blora banyak pohon jati maka digunakanlah daun jati. Tapi di sisi lain penggunaan daun jati memang memberikan aroma yang khas dan makanan akan terkesan alami dengan tidak menggunakan kertas minyak ataupun plastic.

Jumat, 28 April 2023

Tentang Kepala manyung Bu Marni Juwana by qiuslot88

Berada di pesisir Pantura Jawa, Juwana dikenal akan hasil lautnya yang melimpah.

Maka tak heran, kalau aneka kuliner di sini didominasi oleh ikan dan hidangan laut lainnya.

Sebagian besar olahan laut tersebut diracik dengan berbagai bumbu dan rempah, menghasilkan sajian bercita rasa gurih, pedas, dan menggugah selera.



Salah satunya, adalah mangut kepala manyung atau mangut ndas manyung.

Sejatinya, hidangan ini merupakan semacam gulai bercita rasa pedas.

Isiannya cuma satu: kepala ikan manyung berukuran jumbo.

Saking besarnya, seporsi mangut kepala manyung ini bahkan bisa disantap oleh dua orang.

Konon, makanan pedas yang satu ini membakar lidah.

Tapi, sensasi pedas itu yang justru membuat orang ketagihan.

Pantas saja, Warung Kepala Manyung Bu Marni yang kumparan kunjungi disesaki oleh pengunjung yang datang silih berganti.

Kami punya satu tujuan yang sama; menjajal kenikmatan dari si mangut kepala manyung. 

Begitu tersaji, satu buah kepala ikan manyung dengan siraman kuah kuning langsung memenuhi piring. Taburan cabai rawit utuh menghiasi permukaannya.

Kuah kuningnya memang tampak ‘jinak’, namun saat diseruput, rasa pedas dari cabai dan merica langsung menampar lidah.



Saat sensasi pedas mulai teredam, tercecap gurihnya campuran santan dan rempah lainnya.

Tak ketinggalan, aroma khas dari ikan asap yang membuat makan makin lahap.

Untuk menyantapnya, kita harus menyisir sela-sela kepala ikan, mencari daging nan lembut yang tersisip dan menunggu ‘tuk disantap. 

Rasa pedas dari kuah mangut kian terasa dan terus meningkat di tiap suapan.

Bulir-bulir keringat bercucuran, mengiringi perjuangan kami bertahan dari pedasnya mangut. 

Menurut Bu Marni, sang pemilik, resep mangut kepala manyungnya berasal dari sang ibu.

Proses memasaknya pun masih tradisional, menggunakan tungku kayu.

Sedangkan, ikan manyungnya ia dapatkan dari pasar setempat, yang sudah diasapi dan tinggal diolah.

“Untuk bumbunya, pakai kunyit,kencur, cabai rawit, laos, ketumbar, merica, dan santan,” ungkap Bu Marni kepada kumparan.

Selain mangut kepala manyung, satu hidangan lain yang tak boleh terlewatkan adalah mrico ikan sembilang.

Jenis ikan yang dipakai ialah sembilang, semacam ikan laut yang mirip lele. 

Bumbu mrico ini hampir mirip seperti mangut kepala manyung.

Bedanya, ia tak pakai santan, kunyit, dan ketumbar.

Kuahnya lebih bening, dengan paduan tomat rebus dan acar timun sebagai teman bersantap. Cita rasanya pun tak kalah garang. 

Suapan pertama langsung menusuk lidah, dengan cecapan rasa asam nan segar.

Bila tertarik untuk mencoba hidangan mangut Bu Marni, siap-siap untuk mandi keringat.

Meski teriknya cuaca Juwana dan sengatan pedas mangut akan membuat peluh bercucuran, tapi semua itu setimpal dengan rasa puas di lidah.

Mangut Kepala Manyung Bu Marni

Alamat: Jl. Silugonggo, Kauman, Kec. Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah

Kamis, 27 April 2023

Tentang Nasi gandul by qiuslot88

Nasi Gandul atau Sego Gandul (bahasa Jawa: Sega gandhul) adalah masakan khas yang berasal dari daerah Pati, Jawa Tengah, Indonesia yang sepintas mirip dengan Semur Daging dan Gulai.

Nasi gandul sepintas mirip dengan perpaduan soto dan gule, berupa daging yang dengan kuah yang berwarna kecoklatan dengan rasa gurih manis.



Nasi Gandul merupakan kuliner khas daerah Pati (daerah pesisir Jawa Tengah, jalan pantai utara Jawa). Daerah di Pati yang memopulerkan nasi gandul ini adalah Desa Gajahmati (arah selatan teminal bus Pati.

Desa Semampir/Sebelah timur dari Desa Gajahmati, itulah sebabnya sering ditemui kata-kata Nasi Gandul Gajah Mati.

Walaupun pada akhirnya banyak ditemui penjual nasi gandul yang tidak berasal dari Desa Gajahmati tetap menuliskan kata Desa Gajahmati pada spanduk tempat makan mereka.

Jika ditelusuri asal-usul pemberian nama nasi gandul, banyak versi yang mengemukakan tentang hal tersebut.

Warung Nasi Gandul yang lama berdiri dan dipercaya masyarakat Pati adalah Warung Nasi Gandul Pak Meled.

Meled mengaku warung nasi gandul miliknya tersebut awalnya dijalankan oleh orang tuanya sejak tahun 1955.

Diawali dengan berjualan secara keliling kampung hingga akhirnya diwariskan kepadanya dan memiliki tempat menetap untuk berjualan.

Etimologi

 


Terdapat banyak versi tentang asal-usul nama nasi gandul tersebut.

Versi pertama mengatakan bahwa nama nasi gandul adalah nama pemberian dari pembeli.

Dulu, di daerah Pati, penjual nasi gandul menjajakan nasinya dengan menggunakan pikulan yang berisi kuali (tempat kuah nasi gandul) di satu sisi, dan bakul nasi serta peralatan makan nasi gandul di sisi lain.

Kemudian, pikulan tersebut digotong dan dijajakan sehingga pikulan tersebut naik-turun seirama dengan langkah penjualnya (kedua sisi bambu ini bergantungan bakul nasi dan kuali kuah secara menggantung (gandul).

Oleh sebab itu, masyarakat kemudian menamainya nasi gandul.

Versi kedua, nama nasi gandul terinspirasi dari cara penyajian nasi gandul yang unik.

Cara penyajiannya: piring yang telah dilapisi oleh daun pisang, kemudian diisi oleh nasi, baru setelah itu diberi kuah.

Karena penyajian yang serupa itu, oleh para pembeli menyebut bahwa nasi dan kuah itu mengambang; menggantung (tidak menyentuh piring).

Versi Ketiga, dahulu penjual nasi gandul kepala nya botak dan dagangan nasi tersebut dipikul oleh 2 orang dengan kepala botak.

sehingga seperti gondal gandul. Oleh sebab itu, pembeli menyebutnya sebagai nasi gandul.

Versi Keempat, asal-usul Nasi Gandul ini bisa jadi humor warga Pati saja.

Diceritakan pada mulanya, penjual Nasi Gandul yang seorang pria menjajakan dagangannya dengan berkeliling.

Umumnya mereka memakai sarung.

Nah, ketika penjual tersebut duduk dan melayani pembeli, sarung penjual tersebut tersingkap dan kelihatan alat kelaminnya yang “gondal-gandul”.

Kemudian, sejak saat itu orang menyebut nasi itu adalah nasi gandul.

Makanan ini sepintas mirip dengan Soto Betawi dan Soto tangkar yang dijual di seputaran daerah Jakarta, Soto Padang yang dijual di seputaran daerah Kota Padang, serta Soto Bandung yang dijual di seputaran daerah Kota Bandung.

Cara Penyajian

Cara penyajian nasi gandul ini tergolong unik, karena dalam penyajiannya piring dialasi dengan daun pisang.

Makannya juga tidak menggunakan sendok, melainkan suru, yaitu daun pisang yang dipotong memanjang dan dilipat dua untuk digunakan sebagai pengganti sendok.

Namun biasanya para penjual nasi gandul tetap menyediakan sendok maupun garpu untuk persiapan apabila pembeli tidak dapat menggunakan suru.

Saat membeli nasi gandul biasanya hanya akan mendapatkan nasi putih ditambah kuah gandul dengan sedikit potongan daging sapi.

Apabila lauk yang telah diberikan dianggap tidak cukup, pembeli dapat meminta tambahan lauk kepada penjual.

Biasanya tambahan lauk yang tersedia pada nasi gandul adalah: tempe goreng, perkedel, telor bacem,tempe dan tahu bacem, daging sapi, dan jerohan sapi.

Tambahan lauk ini dapat dipotong kecil-kecil sesuai dengan permintaan pembeli.

Kalaupun nasi gandul dirasa kurang manis pembeli dapat menambah kecap yang telah disediakan.

Lauk tempe yang disajikan sebagai pendamping nasi gandul memiliki ciri yang berbeda dengan penyajian tempe pada umumnya.

Saat digigit, tempe dan nasi gandul ini bertekstur keras jika dibanding dengan tempe pada umumnya. Namun, saat dikunyah menjadi pecah dan mudah untuk dicerna.

Tentang Es Teler dan Campur Pak Joni Semarang by qiuslot

Di antara banyaknya kuliner legendaris di Kota Semarang , Es Teler dan Es Campur Pak Joni menjadi pilihan kuliner yang tak boleh dilewatk...