Chat with us, powered by LiveChat

Minggu, 30 April 2023

Tentang Tahu Telor Blora by qiuslot88

Anda berkunjung ke Blora? Tentu hal yang wajib untuk mencoba makanan ini. Salah satu makanan khas dari Blora.
Bagi orang Blora tentu juga sudah tidak asing dengan makanan yang satu ini karena warungnya dapat dijumpai di berbagai sudut kabupaten Blora dari ujung ke ujung, baik dari ujung timur hingga ke barat apalagi kawasan Blora kota.


Kelezatannya dijamin akan membuat anda ingin mencoba lagi.
Lontong sendiri adalah makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun pisang kemudian dikukus di atas air mendidih selama beberapa jam dan jika air hampir habis dituangkan air lagi, demikian berulang sampai beberapa kali(hingga matang).
Dalam sajiannya lontong tahu Blora pada dasarnya terdiri atas lontong dan tahu goreng dengan bumbu kacang khas Blora di atasnya.


Bisa ditambahkan dengan sauran, walaupun biasanya tidak karena inilah yang membedakannya dengan pecel Blora.
Lontong yang alami adalah lontong yang menggunakan daun pisang sebagai wadahnya.
Tidak seperti perkembangan sekarang ada yang menggunakan plastic. Ini akan berbeda pada kualitas ke ramah lingkungannya dan mungkin juga berpengaruh bagi kesehatan.
Lontong tahu Blora berbeda dengan makanan lontong daerah lain. Jika anda melihat penyajiannya nanti, pesanan dapat disesuaikan dengan selera anda yakni tingkat kepedasan dan lainnya.
Barulah disana akan mulai penyajian yakni dengan pemotongan lontong dan tahu goreng, jika anda beruntung tentu tahu goreng yang masih hangat.
Lalu penyiapan bumbu kacang yang ditambahkan kecap dilakukan di depan pemesan. Selain tahu goreng juga bisa ditambahkan lauk-lauk yang lain berbagai gorengan seperti tempe goreng ataupun telur dadar dan lainnya.
Dalam pembuatannya ini disesuaikan dengan porsi jumlah pemesan dan tingkat kepedasan yang diinginkan.
Bisa jadi bahwa dalam penyiapan bumbunya hanya untuk satu pesanan.
Inilah kenapa dapat  dikatakan bahwa lontong tahu Blora adalah makanan cepat saji khas Blora.
Karena penyiapan yang cepat dan dilakukan di depan pemesan.
Makanan fresh. Salah satu factor penting dalam penyajian lontong tahu Blora adalah kecap yang digunakan.
Kecap yang digunakan oleh penjual yang paling khas adalah kecap hasil home industri.
Sebagai makanan dari Blora, kekhasan yang selalu melekat adalah penggunaan daun Jati. Mungkin latar belakangnya adalah karena di Blora banyak pohon jati maka digunakanlah daun jati. Tapi di sisi lain penggunaan daun jati memang memberikan aroma yang khas dan makanan akan terkesan alami dengan tidak menggunakan kertas minyak ataupun plastic.

Jumat, 28 April 2023

Tentang Kepala manyung Bu Marni Juwana by qiuslot88

Berada di pesisir Pantura Jawa, Juwana dikenal akan hasil lautnya yang melimpah.

Maka tak heran, kalau aneka kuliner di sini didominasi oleh ikan dan hidangan laut lainnya.

Sebagian besar olahan laut tersebut diracik dengan berbagai bumbu dan rempah, menghasilkan sajian bercita rasa gurih, pedas, dan menggugah selera.



Salah satunya, adalah mangut kepala manyung atau mangut ndas manyung.

Sejatinya, hidangan ini merupakan semacam gulai bercita rasa pedas.

Isiannya cuma satu: kepala ikan manyung berukuran jumbo.

Saking besarnya, seporsi mangut kepala manyung ini bahkan bisa disantap oleh dua orang.

Konon, makanan pedas yang satu ini membakar lidah.

Tapi, sensasi pedas itu yang justru membuat orang ketagihan.

Pantas saja, Warung Kepala Manyung Bu Marni yang kumparan kunjungi disesaki oleh pengunjung yang datang silih berganti.

Kami punya satu tujuan yang sama; menjajal kenikmatan dari si mangut kepala manyung. 

Begitu tersaji, satu buah kepala ikan manyung dengan siraman kuah kuning langsung memenuhi piring. Taburan cabai rawit utuh menghiasi permukaannya.

Kuah kuningnya memang tampak ‘jinak’, namun saat diseruput, rasa pedas dari cabai dan merica langsung menampar lidah.



Saat sensasi pedas mulai teredam, tercecap gurihnya campuran santan dan rempah lainnya.

Tak ketinggalan, aroma khas dari ikan asap yang membuat makan makin lahap.

Untuk menyantapnya, kita harus menyisir sela-sela kepala ikan, mencari daging nan lembut yang tersisip dan menunggu ‘tuk disantap. 

Rasa pedas dari kuah mangut kian terasa dan terus meningkat di tiap suapan.

Bulir-bulir keringat bercucuran, mengiringi perjuangan kami bertahan dari pedasnya mangut. 

Menurut Bu Marni, sang pemilik, resep mangut kepala manyungnya berasal dari sang ibu.

Proses memasaknya pun masih tradisional, menggunakan tungku kayu.

Sedangkan, ikan manyungnya ia dapatkan dari pasar setempat, yang sudah diasapi dan tinggal diolah.

“Untuk bumbunya, pakai kunyit,kencur, cabai rawit, laos, ketumbar, merica, dan santan,” ungkap Bu Marni kepada kumparan.

Selain mangut kepala manyung, satu hidangan lain yang tak boleh terlewatkan adalah mrico ikan sembilang.

Jenis ikan yang dipakai ialah sembilang, semacam ikan laut yang mirip lele. 

Bumbu mrico ini hampir mirip seperti mangut kepala manyung.

Bedanya, ia tak pakai santan, kunyit, dan ketumbar.

Kuahnya lebih bening, dengan paduan tomat rebus dan acar timun sebagai teman bersantap. Cita rasanya pun tak kalah garang. 

Suapan pertama langsung menusuk lidah, dengan cecapan rasa asam nan segar.

Bila tertarik untuk mencoba hidangan mangut Bu Marni, siap-siap untuk mandi keringat.

Meski teriknya cuaca Juwana dan sengatan pedas mangut akan membuat peluh bercucuran, tapi semua itu setimpal dengan rasa puas di lidah.

Mangut Kepala Manyung Bu Marni

Alamat: Jl. Silugonggo, Kauman, Kec. Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah

Kamis, 27 April 2023

Tentang Nasi gandul by qiuslot88

Nasi Gandul atau Sego Gandul (bahasa Jawa: Sega gandhul) adalah masakan khas yang berasal dari daerah Pati, Jawa Tengah, Indonesia yang sepintas mirip dengan Semur Daging dan Gulai.

Nasi gandul sepintas mirip dengan perpaduan soto dan gule, berupa daging yang dengan kuah yang berwarna kecoklatan dengan rasa gurih manis.



Nasi Gandul merupakan kuliner khas daerah Pati (daerah pesisir Jawa Tengah, jalan pantai utara Jawa). Daerah di Pati yang memopulerkan nasi gandul ini adalah Desa Gajahmati (arah selatan teminal bus Pati.

Desa Semampir/Sebelah timur dari Desa Gajahmati, itulah sebabnya sering ditemui kata-kata Nasi Gandul Gajah Mati.

Walaupun pada akhirnya banyak ditemui penjual nasi gandul yang tidak berasal dari Desa Gajahmati tetap menuliskan kata Desa Gajahmati pada spanduk tempat makan mereka.

Jika ditelusuri asal-usul pemberian nama nasi gandul, banyak versi yang mengemukakan tentang hal tersebut.

Warung Nasi Gandul yang lama berdiri dan dipercaya masyarakat Pati adalah Warung Nasi Gandul Pak Meled.

Meled mengaku warung nasi gandul miliknya tersebut awalnya dijalankan oleh orang tuanya sejak tahun 1955.

Diawali dengan berjualan secara keliling kampung hingga akhirnya diwariskan kepadanya dan memiliki tempat menetap untuk berjualan.

Etimologi

 


Terdapat banyak versi tentang asal-usul nama nasi gandul tersebut.

Versi pertama mengatakan bahwa nama nasi gandul adalah nama pemberian dari pembeli.

Dulu, di daerah Pati, penjual nasi gandul menjajakan nasinya dengan menggunakan pikulan yang berisi kuali (tempat kuah nasi gandul) di satu sisi, dan bakul nasi serta peralatan makan nasi gandul di sisi lain.

Kemudian, pikulan tersebut digotong dan dijajakan sehingga pikulan tersebut naik-turun seirama dengan langkah penjualnya (kedua sisi bambu ini bergantungan bakul nasi dan kuali kuah secara menggantung (gandul).

Oleh sebab itu, masyarakat kemudian menamainya nasi gandul.

Versi kedua, nama nasi gandul terinspirasi dari cara penyajian nasi gandul yang unik.

Cara penyajiannya: piring yang telah dilapisi oleh daun pisang, kemudian diisi oleh nasi, baru setelah itu diberi kuah.

Karena penyajian yang serupa itu, oleh para pembeli menyebut bahwa nasi dan kuah itu mengambang; menggantung (tidak menyentuh piring).

Versi Ketiga, dahulu penjual nasi gandul kepala nya botak dan dagangan nasi tersebut dipikul oleh 2 orang dengan kepala botak.

sehingga seperti gondal gandul. Oleh sebab itu, pembeli menyebutnya sebagai nasi gandul.

Versi Keempat, asal-usul Nasi Gandul ini bisa jadi humor warga Pati saja.

Diceritakan pada mulanya, penjual Nasi Gandul yang seorang pria menjajakan dagangannya dengan berkeliling.

Umumnya mereka memakai sarung.

Nah, ketika penjual tersebut duduk dan melayani pembeli, sarung penjual tersebut tersingkap dan kelihatan alat kelaminnya yang “gondal-gandul”.

Kemudian, sejak saat itu orang menyebut nasi itu adalah nasi gandul.

Makanan ini sepintas mirip dengan Soto Betawi dan Soto tangkar yang dijual di seputaran daerah Jakarta, Soto Padang yang dijual di seputaran daerah Kota Padang, serta Soto Bandung yang dijual di seputaran daerah Kota Bandung.

Cara Penyajian

Cara penyajian nasi gandul ini tergolong unik, karena dalam penyajiannya piring dialasi dengan daun pisang.

Makannya juga tidak menggunakan sendok, melainkan suru, yaitu daun pisang yang dipotong memanjang dan dilipat dua untuk digunakan sebagai pengganti sendok.

Namun biasanya para penjual nasi gandul tetap menyediakan sendok maupun garpu untuk persiapan apabila pembeli tidak dapat menggunakan suru.

Saat membeli nasi gandul biasanya hanya akan mendapatkan nasi putih ditambah kuah gandul dengan sedikit potongan daging sapi.

Apabila lauk yang telah diberikan dianggap tidak cukup, pembeli dapat meminta tambahan lauk kepada penjual.

Biasanya tambahan lauk yang tersedia pada nasi gandul adalah: tempe goreng, perkedel, telor bacem,tempe dan tahu bacem, daging sapi, dan jerohan sapi.

Tambahan lauk ini dapat dipotong kecil-kecil sesuai dengan permintaan pembeli.

Kalaupun nasi gandul dirasa kurang manis pembeli dapat menambah kecap yang telah disediakan.

Lauk tempe yang disajikan sebagai pendamping nasi gandul memiliki ciri yang berbeda dengan penyajian tempe pada umumnya.

Saat digigit, tempe dan nasi gandul ini bertekstur keras jika dibanding dengan tempe pada umumnya. Namun, saat dikunyah menjadi pecah dan mudah untuk dicerna.

Sabtu, 15 April 2023

Tentang Lentog Tanjung Kudus by qiuslot88

Di Kudus, keberadaan lentog tanjung atau yang biasanya kita kenal sebagai lontong memiliki sejarah awal mula yang khas.

Sejarah keberadaan kuliner tradisional ini berkaitan dengan masa awal penyebaran Islam di Kudus oleh para Walisanga.



Lentog tanjung sangat terkenal di Kudus.

Siapa pun masyarakat Kudus pasti sudah pernah merasakan kenikmatannya.

Bahkan kuliner khas ini memiliki arti penting tersendiri bagi masyarakat Kudus, khususnya masyarakat di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Dahulu, kuliner ini hanya dijual di sepanjang jalan Desa Tanjungkarang atau sering disingkat sebagai Desa Tanjung.

Namun, menu tradisional ini kemudian menyebar ke daerah-daerah lain di Kudus.

Sekarang, ketika menginjakkan kaki di Kota Kudus, kita akan dengan mudah menemui kuliner ini di berbagai tempat.

Kuliner ini menjadi menu sarapan pagi bagi masyarakat Kudus.

Terutama jika hari libur, biasanya lentog tanjung menjadi santapan pilihan bersama keluarga.

Lentog



Lentog adalah nama lain dari lontong.

Sebutan yang terakhir lebih familiar di telinga orang Indonesia pada umumnya.

Namun di Kudus, lontong lebih dikenal dengan nama lentog.

Lentog atau lontong terbuat dari beras yang dibungkus daun pisang, kemudian direbus hingga 4 jam. Yang unik, lentog Kudus berukuran jumbo.

Besarnya seukuran betis orang dewasa.

Ini yang membuatnya berbeda dari lontong pada umumnya yang berukuran kecil.

Kuah pelengkapnya terdiri dari 2 macam, yaitu sayur gori (nangka muda) dan lodeh tahu yang memiliki kandungan santan cukup tinggi.

Dilengkapi dengan sambal, bawang goreng, dan sate telur puyuh, semakin menambah nikmatnya rasa untuk bisa menggoyangkan lidah di pagi hari.

Pikiran menjadi semangat dalam beraktivitas selanjutnya.

Selain itu, penyajiannya pun unik.

Lentog disajikan di atas piring kecil yang dialasi daun pisang berbentuk lingkaran.

Memakannya pun tidak memakai sendok logam seperti biasa, melainkan memakai suru (sendok yang dibuat dari daun pisang yang disobek berbentuk persegi panjang, kemudian dilipat menjadi 2), sehingga semakin menambah sedapnya aroma lentog tanjung.

Desa Tanjung

Disebut lentog tanjung karena menu ini berkaitan dengan Desa Tanjung yang menjadi asal kuliner tradisional ini.

Desa ini terletak di Kecamatan Jati yang berada di area Jalan Lingkar di Kabupaten Kudus.

Ada kisah di balik lahirnya kuliner khas Kudus ini.

Konon, masyarakat Desa Tanjung dilarang menjual nasi.

Sebab itu, warga pun berduyun-duyun mengganti makanan pokok warung mereka dengan lentog.

Salah satu tokoh masyarakat Kudus, KH. Abdul Hadi, menjelaskan mengapa nasi dilarang untuk dijual.

Saat masih zaman kerajaan, datang beberapa wali untuk menyebarkan agama Islam di area Kudus.

Secara diam-diam, mereka ingin membangun sebuah masjid sebagai pusat dakwah Islam di Kudus.

Karena tak mau agenda penting tersebut diketahui dan digagalkan oleh pihak kerajaan, mereka membangun masjid pada malam hari hingga menjelang subuh, di saat semua orang sedang terlelap tidur.

Para wali dan beberapa muridnya tersebut mengangkut bahan bangunan yang letaknya di Desa Tanjung menuju Desa Kauman di Kecamatan Kota.

Area Desa kauman ini kini menjadi area Masjid Menara Kudus yang menjadi monumen Islam utama di Kota Kudus.

Mereka mengangkut bahan bangunan diam-diam agar tidak menarik perhatian.


Namun pada suatu hari, ketika mereka baru sibuk mengangkut bahan bangunan, terdengar suara ketukan saringan kelapa dari seorang ibu penjual nasi. Saringan kelapa tersebut ia gunakan sebagai tempat nasi.


Suara ketukan tersebut mirip dengan suara beduk subuh sehingga para murid wali menganggap hari sudah menjelang pagi.

Para murid kemudian berhenti bekerja dan dengan tergesa-gesa kembali ke area Desa Kauman untuk melaksanakan sholat subuh.


Mengetahui hal itu, sang wali kecewa karena murid-muridnya meninggalkan tanggung jawab, padahal waktu masih larut malam.

Apalagi ditambah niatnya untuk segera menyelesaikan pembangunan masjid agar bisa dipergunakan berdakwah.


Sang wali bertanya kepada murid-muridnya apa yang menyebabkan mereka berlarian meninggalkan tanggung jawab.

Salah satu muridnya menyatakan bahwa mereka mendengar suara ketukan seperti suara beduk subuh.

Sang Wali pun menyelidikinya dan kemudian mengetahui bahwa ketukan tersebut berasal dari penjual nasi yang buka hingga larut malam.

Menurut KH Abdul Hadi, Sang Wali kemudian mengeluarkan peringatan kepada warga Desa Tanjung: “Nek ono rejo-rejone jaman. Wong Tanjung ojo ono sing dodolan sego, mergo ngganggu pembangunan.”

Dari ucapan di atas, tampak bahwa Sang Wali melarang warga Desa Tanjung untuk berjualan nasi (bahasa Jawa: sego).

Untuk menyiasati hal itu, para warga pun mengganti menu pokok warung mereka dengan lentog.

Untuk menambah cita rasa pada potongan lentog, warga pun membuat sayur khusus.

Warga Desa Tanjung melakukannya sebagai penghormatan kepada Sang Wali, juga sebagai dukungan untuk memudahkan tersebarnya Islam di Kudus.

Hal ini membuat gangguan terhadap pembangunan masjid dihilangkan sehingga prosesnya berjalan lancar.

Sampai saat ini, Masjid Menara Kudus masih berdiri megah di area Masjid Kauman dan area makam Sunan Kudus.

Sejarah ini menjadi kenangan mendalam bagi warga Tanjung. Sampai sekarang pun, warga asli Tanjung tidak berani berjualan nasi. Sebagai gantinya, mereka menjual lentog tanjung.

Kamis, 13 April 2023

Tentang Garang Asem Kudus by qiuslot88

Selain sop ayam dan sate kerbau, di Kudus juga ada garang asem ayam yang enak.

Dibungkus dengan daun pisang, dikukus menjadi gigitan yang nikmat.

Memainkan Garang Asem memiliki dua arti.



Di Jawa Tengah, Garang berarti hidangan daging dengan kuah berwarna cokelat yang memiliki rasa sedikit manis asam segar.

Di Kudus, garang asem berarti potongan ayam kampung yang dibumbui irisan belimbing atau tomat hijau, cabai dan daun salam, serta lengkuas.

Mendapatkan Garang Asem di Kota Kretek tidaklah sulit.

Anda bisa mampir ke salah satu penjualnya di Pusat Garang Asem, RM. Gasasa Garang Asem Sari Rasa Pantura Kuduas – Pati, juga di  Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, Kudus

Di sana Anda bisa menikmati kelezatan Garang Asem.

Imam mengaku mencoba menikmati Garang Asem.

Menurutnya, rasa asam garang  begitu nikmat, apalagi jika disajikan dalam bungkus daun pisang. Baunya enak. 

“Saya baru pulang dari Kudus dan mampir ke sini, saya ingin mencicipi asam garang asem. Rasanya enak, pedas, ayamnya bebas dan kuah yang dibungkus daun pisang sangat menggoda, enak, nikmat,” kata imam usai makan garang asem"

 Koki RM. Garang Asem, Santoso (43), mengatakan, selama proses penyiapan, potongan ayam kampung dicampur dengan kuah bumbu.

Kemudian dibungkus dengan daun pisang.



"Kemudian diaduk atau dikukus selama 1,5 jam. Ini  agar bumbu meresap ke dalam serat daging," kata Santoso dari juru masak Garang Asem. 

Menurutnya, asam garang yang dibungkus  daun pisang cenderung lebih menonjol aroma sedapnya.

Saat mengukus, gunakan api besar untuk uap panas.

“Daun pisangnya memberikan aroma yang khas dan lebih enak dibandingkan dimasak langsung di dalam panci,” kata Santoso. 

Rata-rata 50 ekor ayam kampung diolah menjadi asam per hari.

100 porsi Garang Asem disajikan setiap hari.

“Biasanya disajikan dengan nasi dan kerupuk.

Satu porsi garang asam jawa harganya Rp 30.000,” ujarnya.

Rabu, 12 April 2023

Tentang Bakso Agung Semarang by qiuslot88

Semarang tidak hanya menyajikan destinasi tempat wisata yang tetapi juga banyak wisata kuliner di semarang yang bikin nagih salah satunya bakso Agung.



Semarang sebagai ibukota provinsi Jawa Tengah dikenal juga sebagai tempat destinasi wisata dan memiliki wisata kuliner yang beraneka macam seperti Bakso Agung

Oleh karena itu simak informasi lengkap tentang wisata kuliner yang satu ini yaitu bakso Agung.

Akhir-akhir ini hujan menjadi langganan di beberapa wilayah Indonesia sehingga menikmati menu bakso Agung bisa menjadi rekomendasi kuliner kala hujan.

Bakso Agung ini sebenarnya bakso babat khas Salatiga yang sudah memiliki cabang dimana-mana salah satunya ya Kota Semarang ini.

Bakso ini memiliki kuah bening yang seger dan gurih untuk dinikmati selagi hangat.



Ada beberapa menu bakso Agung yang ditawarkan yaitu bakso urat, bakso halus, bakso ikan, babat, lidah, kikil, jeroan dan lain lain.

Selain itu bakso Agung ini juga menyediakan 18 toping yang bisa dicustom sesuai keinginan pelanggan.

Untuk porsinya jangan ditanyakan lagi yang jelas bikin perut kenyang harga pas dikantong.

Tidak hanya bakso, tempat ini juga menyediakan snack ala mexican yaitu Crispy Empanadas cheesy Egg.

Tempatnya pun dilengkapi fasilitas yang gak kalah lengkap yaitu ruangan ber-ac, baby chair, dan bersih sehingga nyaman untuk dikunjungi bersama keluarga

Kalau berkunjung ke tempat ini jangan lupa nikmati juga wedang uwuhnya yang enak banget.

Ada juga coklat jahe yang gak kalah lezatnya.

Lokasinya Bakso Agung ini yaitu di Jl. Puri Anjasmoro Raya B1/21, Semarang.

Namun, tidak perlu khawatir jika lokasi ini jauh dari rumah karena ada beberapa cabangnya yaitu

  • Jl. Dr. Wahidin 86 A, Semarang
  • Jl. MH.Thamrin no 35 , Semarang
  • Jl. Karangwulansari no. 4, Semarang

Tentang Angkringan Pak Gik by qiuslot88

Pemilik Angkringan Pak Gik,Sugijo, meninggal dunia, Minggu 13 Februari 2022.



Angkringan Pak Gik di Kota Semarang sudah cukup melegenda.

Purwanto, anak ketiga dari Sugijo, berkata jika usia Angkringan Pak Gik sudah 50 tahun.

Adapun angkringan tersebut berlokasi di Jalan Inspeksi, Sekayu, Gajah Mada atau tepatnya di pinggir Kali Inspeksi.



Nasi Kucing Pak Gik ini cukup berbeda dari yang lain karena buka pada pukul 23.00 sampai 04.00 WIB.

Meski demikian banyak masyarakat yang punya kenangan di sini.

Terutama dalam menuntaskan perut keroncongan di tengah malam makan nasi kucing.

Purwanto tadi menjelaskan jika Angkringan Pak Gik berdiri sejak 1960-an.



"Sejarahnya dulu warung berdiri tahun 60-an. Dari tahun 60,70, 80-an buka dari jam 2 pagi.

Lalu sekitar tahun 77 ketika saya ikut bantu buka lebih awal, maju jadi pukul 12 malam,” kata Purwanto beberapa waktu yang lalu.

Ketika pengelolaan dipegang penuh Purwanto jam buka pun jadi maju lagi yaitu pukul 11 malam.

Hal ini dilakukan untuk menjembatani para pelanggan yang sudah menunggu lama.

Terutama dari kalangan anak sekolah dan mahasiswa.

“Sekarang dari pukul 11 malam hingga habis sekitar 4 pagi.Seringnya habis meski di musim hujan dagangan masih sisa,” tambahnya.

Makanan yang dijual di sini juga tidak semuanya dibuat sendiri oleh keluarga Pak Gik, melainkan hasil titipan dari warga sekitar yang jumlahnya hingga 30-an orang

Jadi ketika satu menu habis akan diantar lagi.

Lebih dari itu, sajian makanan Angkringan Pak Gik tidak jauh berbeda dari angkringan lainnya.

Terdapat berbagai jenis macam gorengan, sate dan makanan lain.

Mungkin yang membedakan adalah tehnya yang kental dan spesial.

Tentang Es Teler dan Campur Pak Joni Semarang by qiuslot

Di antara banyaknya kuliner legendaris di Kota Semarang , Es Teler dan Es Campur Pak Joni menjadi pilihan kuliner yang tak boleh dilewatk...